AMDG

AMDG aslinya berasal dari bahasa Latin singkatan sebuah kalimat AD MAIOREM DEI GLORIAM yang artinya kurang-lebih “Demi Menambah Besar Kemuliaan Tuhan.” Semula kalimat tersebut adalah moto hidup St. Ignatius Loyola, yang kemudian dijadikan dasar penghayatan hidup membiara ordo Serikat Jesus yang didirikan bersama empat orang sahabatnya.

Penulis merefleksikan AMDG ke dalam bahasa Indonesia dengan mengartikan Allah Manusia Dunia Gereja, namun sama sekali tidak ada maksud menyalah artikan AMDG yang asli, yaitu AD MAIOREM DEI GLORIAM. Logo AMDG yang artinya “Allah Manusia Dunia Gereja” hanyalah istilah yang penulis gunakan dalam usaha mencari, memahami dan memberi arti, bahwa “hidup adalah anugerah sekaligus kesempatan.”

Uraian Allah Manusia Dunia Gereja (Global) berikut ini adalah refleksi pribadi, sekali lagi tidak ada maksud merubah apalagi menggantikan kedudukan AMDG aslinya, justru berharap dapat menambah besar kekayaan yang terkandung di dalam AD MAIOREM DEI GLORIAM . Bagi siapaun Anda semoga apa yang ada di sini dapat dijadikan sebagai inspirasi, orientasi dan motivasi dalam perjuangan memberi arti hidup dan kehidupan di dunia ini. Semoga berguna. Amin.


Bentuk logo bulat sebagai refleksi atas kasih Allah yang senantiasa mengalir tiada henti kepada ciptaan-Nya, teristimewa kepada manusia ciptaan milik kesayangan-Nya. Melingkar tanpa ujung tiada pangkal adalah gambaran cinta Allah yang tak terbatas, yang diadopsi ke dalam lambang cincin bagi sepasang kekasih yang saling mencintai. Kerahiman-Nya yang tak terselami, karena “kerahiman” Allah di sini tidak terbatas pada soal belas-kasihan, tetapi pernyataan bahwa Allah Maha Besar. Rahim seorang ibu tempat terciptanya manusia baru dapat diperkirakan berapa besar atau luasnya, di dalam rahim seorang ibu dari setitik darah pertemuan sel telur ibu dan spirma bapak, selama kurang-lebih 90 hari tercipta manusia baru. Alam semesta dengan segala isinya berada di dalam Rahim Allah (Roh Allah), ibarat seperti janin yang dicipta dan hidup di dalam rahim ibunya. Jagad raya dan segala dunia ada di dalam Roh Allah, Yang Esa dan Maha Besar, artinya tidak ada yang di luar Allah, di luar Roh-Nya, yang di luar Rahim-Nya tidak ada, maka Allah disebut Maha Kuasa bukan dalam arti berkuasa menjungkir-balikkan bumi, tetapi bahwa Allah ada di mana-mana : “Ke mana aku dapat pergi menjahui Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau ada di sana, jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata : “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang, kegelapan sama seperti siang. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Maz 139:7-13).

Di bawah ini arti masing-masing lambang (elemen) dalam logo AMDG ala Indonesia yang tiada lain hanyalah sebuah refleksi pribadi, di mana penulis memandang, merenungkan dan menggambarkan tentang kesejatian kehidupan ini. Aku ini siapa ? Hidup ini milik siapa ? Dengan memahami dua pertanyaan tersebut kiranya akan sangat menolong memberi makna kehidupan ini. Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas dua pertanyaan tersebut, penulis menempatkan masing-masing elemen logo di tempat yang kurang-lebih sesuai dengan artinya, yaitu sbb:

Refeleksi atas Alfa dan Omega (Why 1:17), yang menunjuk pada Allah sebagai asal dan tujuan segala ciptaan. Awal dan akhir tidak hanya mengenai masalah waktu namun melingkupi seluruh kehidupan, pusat pandangan seluruh gerak langkah alam semesta, terlebih manusia milik kesayangan-Nya. Dalam logo tersebut Allah dilambangkan dengan a huruf kecil sebagai cermin dari kesetiaan Allah yang demi cinta-Nya kepada manusia, Ia rela turun ke dunia menjilma menjadi manusia (Yoh 1:1-18). Tempatnya di atas tengah menunjuk di mana Allah sebagai sumber dari segala yang ada, Allah adalah Raja di atas segala raja, akan tetapi Allah memerintah dengan hukum “kasih.”

Karya agung Allah istimewanya manusia, dicipta dibentuk-jadikan dari tanah oleh Sang Maestro jagad raya dan diberi kehidupan : “Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej 2:7) Di dalam logo posisinya di bawah tengah, artinya walaupun diciptakan dari debu tanah tetapi menjadi pusat perhatian Allah, sebab manusia dikehendaki dicipta menjadi gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Dengan kata lain kemuliaan Allah berada di “kening” manusia, maka janganlah mencoreng arang di kening : “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan; apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Mzm 8:4-7) Allah mengaruniakan akal-budi sehingga manusia menjadi makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Semua itu dikehendaki oleh Allah dengan tujuan agar manusia dapat menjadi saksi keagungan kasih-Nya, yang telah mencipta dan melahirkan alam semesta dengan segala isinya.

WARNA DASAR ELEMEN

Lukisan sebuah kedamaian abadi yang dapat dilihat ketika warna langit biru di pagi hari yang cerah, sejuk, bersih dan luas tak terbatas : melukiskankan kesucian Allah, tetapi “suci” bukan berarti tanpa kesalahan dan dosa. Kesucian Allah dalam arti bersih tiada tara, satu titik debu pun tak ada, sunyi sepi di mana keberadaan Allah yang lebih halus dan lebih bersih dari udara. Allah Maha Ada bersifat Roh, tidak berwujud, tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Orang tahu dari mana angin datang dan ke mana behembus dapat dirasakan, namun siapa yang tahu dari mana dan ke mana Roh Allah melingkupi alam semesta, di sinilah pentingnya iman. Dengan dan dalam alam “iman” manusia dapat mengalami dan merasakan kehadiran Allah : “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu, pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman” (Kej 3:8).

Menunjuk kepada dunia kehidupan manusia secara “pribadi” sebagai makhluk yang unik, semua orang tanpa kecuali, masing-masing mempunyai peran yang sangat berarti bagi Allah, semuanya diutus untuk menjadi saksi atas kuasa kasih-Nya yang melimpah : “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kej 2:15) Allah menghendaki agar manusia dengan akalbudinya “mengelalola kehidupan” (alam semesta) untuk kepentingan bersama, bukan “menguasai” untuk kepentingan pribadi. Sejak dalam kandungan ibu sampai maut menjemput, tiap orang mempunyai kehidupan pribadi (privasi) yang berbeda satu dengan yang lain dengan “talenta” yang telah terukur rapi : Alpha sampai Omega. Bagi Allah bukan soal besar kecil “talenta” yang dikaruniakan, tetapi sejauh mana manusia memanfaatkan “talenta” yang ada? Di sinilah pentingnya Allah mengaruniakan “kasih” ke dalam setiap hati manusia ciptaan kesayangan-Nya.

Bagi masyarakat umum berarti “global”, dan bagi umat nasrani disebut Gereja yang berarti “universal” (terbuka untuk semua), di mana manusia diciptakan sebagai makhluk sosial alias tidak hidup berdiri sendiri-sendiri. Alam semesta, segala dunia semua lingkungan termasuk di dalamnya umat manusia, di mata Allah adalah satu-kesatuan yang utuh dan baik (cosmos). Kehidupan secara global dapat berjalan dengan baik kalau didasari dengan “kasih” karunia Allah, sebab “kasih” adalah hukum di atas segala hukum :

“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Kor 13:4-7)

WARNA DASAR ELEMEN

Dasar elemen d (kehidupan internal) dan g (kehidupan external) berlatar-belakang warna kuning mengibarakatkan suasana siang hari, panas terik dan berdebu. Maknanya bahwa manusia diwajibkan bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab, tidak berdasar “pembenaran” pribadi atau kelompok (subyektif) tetapi bersandar kepada “kebenaran” Allah (obyektif). Lambang d di sebelah kiri dan g di sebelah kanan, artinya menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Garis pemisah antara elemen logo yang satu dengan yang lain bukanlah sekedar hiasan tanpa arti, garis X tersebut menunjukkan adanya tembok, jurang atau pemisah yang melukiskan terjadinya “exkomuni” bagi manusia terhadap Allah karena dosa, akibatnya manusia mengembara di dunia dan menyusuri jalan-jalan yang “gelap” penuh kejahatan, kehidupan manusia mengarah kepada kebinasaan. Pada mulanya Allah sudah tahu problem terbesar yang akan selalu dihadapi oleh manusia ciptaan-Nya, yaitu mengenai “kebenaran” maka nasihat-Nya sangat keras :

‘… tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej 2:17)

Kata-kata “pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” dapat dipakai sebagai parameter, bahwa nasihat Allah tersebut sifatnya sangat “keras” atau dengan kata lain “tak boleh dilanggar.” Nasihat-Nya diberikan kepada manusia sebagai bekal dalam peziarahan di dunia fana yang penuh cobaan dan godaan, sebuah bentuk kekhawatiran Allah terhadap milik kesayangan-Nya yang sekaligus pernyataan cinta-Nya. Dengan nasihat-Nya itu Allah menjaga dan melindungi manusia dari berbagai macam kejahatan, sebab “bumi” tempat tumbuh dan berkembangnya “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” tidak terletak di Taman Eden dan juga bukan di Yerusalem, melainkan di dasar otak setiap manusia.

Di dalam “bumi pikiran” manusia dapat tumbuh, berkembang dan berbuah segala macam benih yang baik dan juga yang jahat. Luas “bumi pikiran” melebihi luasnya bumi tempat manusia berada, dan di dalam pikiran manusia “yang baik” belum tentu “benar” dan “yang jahat” beleum pasti “salah”. Artinya terlampau sulit bagi manusia untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, yaitu yang biasa disebut dengan istilah “orang buta” atau “kuasa kegelapan” yang lain menyebut “roh jahat” yang menguasai kehidupan manusia di dunia : tidak dapat melihat mana kawan mana lawan termasuk susah untuk mengerti mana tuwan mana Tuhan. Hal itulah yang menyebabkan dalam segala kehidupan dan persoalan, tanpa menyadari hampir semua orang lebih berdasar pada “pembenaran” (subyektif) daripada bersandar pada “kebenaran” (obyektif). Disinilah tempat yang paling rawan terjadinya “manusia makan buah pengetahuan” yang ditunjuk oleh Allah.

Malang tak dapat ditolak, hukum alam “sebab-akibat” tak dapat dihindari. Manusia telah membangun jurang pemisah dengan Allah, akibat “kesalahan” (dosa) manusia harus mengembara dan menjalani sisa waktu kehidupan dalam kesengsaraan. Manusia hidup dalam gelap penuh ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran, mencari kawan yang ditemukan lawan, maksud hati menyapa Tuhan tetapi apa daya kaki lebi dulu lari mencari berbagai “kebutuhan” :

“…. dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil.” (Kej 3:17-19)

Sabda Allah inilah yang menjadi aspirasi warna dasar elemen d dan m, apa yang tersirat dalam petunjuk atau firman Allah tersebut adalam realitas konkrit kehidupan manusia, yaitu susah mencari “rezeki” (kepentingan jasmani) serta sulit mencari “makanan” (kepentingan rohani). Ironisnya hampir semua orang tidak berjuang menyelesaikan persoalan penyebab penderitaan, mereka justru berlomba menghidar dengan alasan dan caranya masing-masing tanpa menyadari bahwa hal itu melahirkan masalah baru. Ketika orang menghindari penderitaan saat itu pula akan bertemu dengan penderitaan, akibatnya keterlukaan dan beban terasa semakin menghimpit, melumpuhkan tenaga dan membuat orang semakin tak berdaya. Persepsi buruk pun semakin menumpuk sehingga menutup mata, tidak dapat melihat rahmat pertolongan dari Allah yang senantiasa sedia bagi siapapun. Dalam kondisi ketidakberdayaan mencari jalan keluar atas perkara yang melanda, akan membuat tubuh lelah, kepala pusing, stress, maka timbullah sikap memusuhi keadaan dan menyalahkan orang lain sebagai penyebab semua itu. Kebiasaan buruk seperti tersebut juga dengan jelas dipertontonkan oleh Adam dan Hawa ketika mereka menghadapi persoalan, menuding orang lain dan menyalahkan keadaan, bahkan Adam menyalahkan Allah (Kej 3:12), teramat sulit bagi seseorang untuk mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri (Kej 2:25).

Tanda silang di tengah logo berarti plus atau positive, yaitu sebuah kebenaran karya keselamatan Allah yang dilakukan dalam manusia Yesus Kristus. Bagi masyarakat non kristen lambang ini menunjuk kepada Agama, artinya tidak memandang Kristus dari sudut pribadi namun lebih kepada wahyu atau tuntunan atau ajaran yang datangnya dari kebenaran Allah. Belum pernah ada nabi yang dengan terang penuh kepastian mengatakan :

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6)

Walau manusia ciptaan kesayangan-Nya hidup dalam gelimang dosa, namun Allah tak pernah berhenti mencintainya, kasih kerahiman-Nya tetap tak pernah berubah. Ketika Allah melihat perjalanan kehidupan manusia tidak mengarah kepada kehendak-Nya, “dan muka bumi dipenuhi dengan kejahatan dan kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan,” (Kej 6:5) gerak langkah kehidupan manusia menuruti kemauannya sendiri (kehendak daging) yang mengarah kepada kehancuran, “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menciptakan manusia di bumi.” (Kej 6:6) Penyesalan Tuhan tersebut bukan berarti kecewa atau bahkan benci, tidak, melainkan mengandung kasih yang tiada terkira yang kemudian dilahirkan melalui banyak nabi (utusan), teristimewa dalam diri Nabi Agung Yesus Kristus. Hati Allah sedih melihat ciptaan milik kesayangan-Nya hidup dalam penderitaan, walau itu semua terjadi karena ketidaktaatan manusia dan menuruti kemauannya sendiri. Kenyataan kehidupan yang dialami oleh manusia tidak sesuai dengan kehendak Allah, sehingga memilukan hati-Nya (Kej 6:6).

Yang membuat hati Allah mengalami kesedihan mendalam, yang memilukan hati-Nya itu bukan karena ketidaktaatan menusia menuruti nasihat-Nya atau kegagalan memenuhi kehendak-Nya menjadi citra-Nya, namun oleh penderitaan dan kesengsaraan yang dialami oleh umat manusia. Firman Allah yang mengatakan, bahwa “pada hari engkau memakan buah pengetahuan, pastilah engkau mati” bukanlah sebagai ancaman tetapi justru kekhawatiran hati Allah, dan hal itulah yang terjadi sampai saat ini. Allah melihat semua yang dilakukan dan dialami oleh ciptaan-Nya, maka ketika milik kesayangan-Nya hidup dalam penderitaan, hati Allah sangat sedih, pilu. Sama seperti seorang bapak yang melihat kehidupan anak-anaknya menderita, dia ikut merasakan kesedihan dan berdaya upaya menolong anak-anaknya, Allah pun demikian bahkan lebih dari itu. Daya upaya dan pertolongan Allah kepada manusia terbentang sepanjang Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, teristimewa Injil dimana cinta Allah yang tak terbatas terlukis dalam diri Yesus Kritus.

Keseluruhan Alkitab (semua agama) memuat kasih pertolongan Allah bagi umat-Nya, Ia senantiasa mengulurkan tangan-Nya dengan berbagai cara bagi semua orang dan segala umat tanpa kekecualian, semuanya dicari dan dirindukan oleh Allah agar dapat mengalami kebahagiaan kembali. Tidak ada orang yang lepas dari kerinduan hati Allah, Dia adalah Bapak di atas segala bapak yang mendambakan anak-anaknya bahagia. Banyak orang dipilih-Nya dan diutus sebagai kepanjangan lidah dan tangan Allah, mereka semua sebagai duta untuk menyampaikan pertolongan yang asalnya dari kasih Allah. Dalam kisah kasih Allah kepada ciptaan kesayangan-Nya, yang dapat ditelusuri sepangjang Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu teristimewa dalam Injil dapat dikatakan, bahwa manusia dilahirkan dalam alam penderitaan akibat kesalahan nenek moyang yang justru diwariskan terus-menerus dari generasi ke generasi, yang oleh Gereja Katolik kesalahan (dosa) tersebut disebut dengan “dosa asal.” Ironisnya generasi demi generasi kurang memperhatikan bahkan tidak peduli, bahwa kesalahan (dosa) membuat kondisi kehidupan manusia menjadi menderita !?! Di sinilah tempat rawan di mana manusia mudah jatuh ke dalam jurang “kematian” karena gerak langkah hidupnya tidak menuruti nasihat dan petunjuk Allah. Dan di sinilah pentingnya Allah mewahyukan Kitab Suci, yaitu kitab yang memuat tuntunan dan petunjuk Allah, yang akrab disebut dengan istilah Firman Allah atau Sabda Tuhan.

Firman Allah yang terbentang dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu menunjukkan bahwa Ia sangat mencintai manusia. Petunjuk, nasihat atau tuntunan-Nya tersebut diberikan sebagai karunia (wahyu) dengan perantaraan orang-orang pilihan Allah, demi menjaga agar ciptaan milik kesayangan-Nya tidak jatuh ke dalam penderitaan dan kematian. Kematian yang dimaksud bukan berarti detak jantungnya berhenti, tetapi hidup dalam “kuasa kegelapan” (jahat) yang dapat berakibat mengalami penderitaan abadi, yaitu yang biasa disebut dengan istilah “neraka.” Nasihat Allah ini diberikan kepada manusia sesungguhnya sebagai bekal dalam perjalanan hdiup di dunia, dan maksud yang terkandung di dalam nasihat Allah tersebut adalah untuk membantu manusia agar berhasil memenuhi kehendak-Nya, yaitu menjadi “gambar dan rupa” (citra) Allah dalam mengarungi samudera kehidupan, dari dunia fana sampai ke dunia baka dan mengalami bahagia abadi,” yaitu yang biasa disebut dengan “sorga.”

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, kondisi kehidupan bersahabat dengan Allah : tidak ada jurang pemisah antara Allah dan manusia dalam semua peri kehidupan. Damai sejahtera dambaan seluruh umat manusia, yang sangat lebih dirindukan oleh Allah sendiri, yaitu hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Nya : manusia hidup dalam terang kasih Allah yang tak terselami.

Akibat kesalahan dan dosa manusia sendiri, maka terciptalah jurang penghalang, Allah kehilangan ciptaan milik kesayangan-Nya dan mencarinya : “Dimanakah engkau?” (Kej 3:9). Banyak cara dilakukan Allah untuk menolong umat-Nya, namun manusia masih tegar tengkuk : “Bangsa ini beribadah kepada Allah dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Allah.” (Yes 29: 13; Mrk 7:6)

Yesus lahir, Penyelamat utusan Allah yang datang dari sorga, turun ke dunia, membawa damai. Perseteruan Allah dengan manusia dihapus dan dosa manusia ditebus dengan Darah-Nya yang mulia. Kematian dihancurkan, kehidupan dipulihkan, jalan menuju Allah dibuat-Nya dan pintu sorga dibuka-Nya : Kristus, Putra Allah ditetapkan sebagai jalan, kebenaran dan hidup, karena Ia rela menyerahkan nyawa-Nya bagi sesama.

Ad Maiorem Dei Gloriam : “Demi Menambahkan Besar Kemuliaan Allah” sesungguhnya tidak tertuju secara langsung kepada Allah, namun justru bagi manusia yang diciptakan dikehendaki oleh Allah sebagai “citra-Nya” (bdk. Kejadian 1:26-27). Dengan kata lain, manusia dimuliakan dari antara segala makhluk hidup ciptaan Tuhan.

“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117) Pada hakikatnya pujian dan syukur manusia tidak berguna bagi Allah, sembah dan bakti manusia tidak akan menambah besar kemuliaan Allah, sebab sejak pada mulanya sampai selama-lamanya Allah Yang Mahamulia. Pujian dan sykur, sembah dan bakti manusia bagi Allah, sesungguhnya demi keselamatan manusia itu sendiri, dan Allah mempertaruhkan keagungan nama-Nya dalam hidup dan kehidupan manusia.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s