Ucapan Bahagia

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:3-13)

Khotbah di Bukit dapat kita sebut sebagai “kristalisai” atas ajaran (kata / iman) dalam hidup (perbuatan) Yesus. Khotbah di Bukit bisa juga dikatakan sebagai undangan bagi semua orang (terlebih bagi pengikut-Nya) untuk memiliki kehidupan yang berkarakter : memilki sifat ke-BAIK-an Allah atau men-CITRA-kan (menghadirkan) Allah kepada sesama. Kehidupan yang “berkarakter” Kristus akan ditandai oleh adanya dampak positif bagi orang lain, sebagai ciri khas pola kehidupan kristiani atau dengan sebutan mentereng “Pola Hidup Baru” yang membahagiakan. Akan tetapi “kebahagiaan” yang dimaksud dalam Sabda Bahagia adalah “kebahagiaan” yang terkait mutu manusianya, bukan apa yang dimilikinya.

“Kebahagiaan” yang disebut dalam Khotbah di Bukit diawali pertobatan, yaitu meninggalkan cara lama dan memulai cara baru, dari pola “miskin di hadapan Allah” sampai menjadi “saksi kebenaran (Kristus).” Lebih dari itu sekiranya dapat dengan baik dan benar menjalankan amanat yang tersurat dalam Sabda Bahagia, niscaya kehidupan yang berkarakter dan membahagiakan tersebut sekaligus sebagai bentuk “pemuliaan” manusia kepada Allah. Gaya bahasa kata-kata Yesus kurang lebih sama dengan gaya penulisan Kitab Suci (istimewanya Injil), yaitu gaya bahasa jiwa / roh (bdk. Yoh 6:63) yang biasa disebut sastra “apokalips” (apokaliptik).

“Berbahagialah ….” memiliki arti “penyingkapan” yang tersamar di balik segala sesuatu yang ditunjuk. Dalam perikop Khotbah di Bukit (Mat 5:1-12) kata “berbahagialah” menunjuk kepada “sikap hidup” yang mendatangkan anugerah istimewa dari Allah, yaitu hak masuk (empunya) Kerajaan Sorga. Secara Ringkas perikop “Khotbah di Bukit” menyinggung “kesadaran” manusia (pribadi seseorang) terhadap Allah Yang Maha Segala.

Arti kata “Berbahagialah ….” di sini adalah “kebahagiaan sejati” yang jauh berbeda dengan pengertian kita, yaitu sebuah “kebahagiaan” yang identik dengan hidup senang karena kecukupan semua kebutuhan hidup sehari-sehari, bahagia karena berhasil memiliki segala sesuatu di dunia ini. “Kebahagiaan” menurut Yesus dalam prikop Khotbah di Bukit yang akrab dengan istilah Sabda Bahagia ini adalah menunjuk kepada “kebahagiaan” hakiki pemberian (yang disediakan) Allah bagi seseorang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. “Kebahagiaan” ini akan terpenuhi sebagai “Kebahagiaan Sejati” yang sifatnya abadi kelak, sesudah jiwa berpisah dengan tubuhnya. Dalam kehidupan sekarang, di dunia ini, “kebahagiaan” hakiki sudah dapat dicicipi sejauh mana kita mampu melaksanakan nasihat Yesus dalam Khotbah di Bukit :

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3) “Miskin” di hadapan Allah mempunyai arti yang jauh berbeda dengan pengertian kita dalam kehidupan sehari-hari yang dibatasi oleh urusan sembako atau “dunia benda” (harta, uang, pangkat dsb) yang sifatnya sementara. “Miskin” di hadapan Allah menunjuk kepada “penyadaran” diri, bahwa kita tak akan dapat berbuat apa-apa tanpa campur tangan Allah. Menyadari “keterbatasan” diri di hadapan Yang Tak Terbatas :

“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” (Mat 11:25)

Pengenalan Allah bukan soal intelektual atau kesalehan manusia, karena keber-ADA-an Allah dan kekuasaan-Nya jauh di luar kemampuan manusia. Untuk dapat menyadari keber-ADA-an Allah serta mengalami merasakan ke-HADIR-an-Nya, manusia harus menempat diri serendah-rendahnya (memiskinkan pikiran menghilangkan kesombongan rohani) di bawah telapan kaki-Nya. “Harus” (tidak ada cara lain) karena pernyataan Yesus adalah “kebenaran” yang tak dapat ditawar. “Kebenaran” adalah segala sesuatu yang hanya satu, tidak ada duanya di segala dunia. Contohnya kata “Jalan” Mayangsari, entah berapa banyak yang dapat menggantikan kata “Mayangsari” namun tidak ada yang dapat menggantikan kata “Jalan.”

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7)

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4) Selama ini kita “berdukacita” oleh karena salah satu anggota keluarga / teman / sahabat meninggal dunia, ada pula yang “berdukacita” oleh karena perusahaannya bangkrut atau kegagalan-kegagalan yang lain. Pernahkah kita “berdukacita” karena telah berbuat dosa ? Sejauh mana kita “berdukacita” karena telah mengabaikan keber-ADA-an Allah ? Hiburan duniawi dari “miskin dunia benda” tiba-tiba banyak rejeki dan menjadi OKB (Orang Kaya Baru), atau pengamen jalanan tiba-tiba menjadi penyanyi terkenal dengan penghasilan yang melimpah, sifatnya juga hanya sementara. Apa yang dikatakan Yesus di sini tidak jauh berbeda dengan seruan di padang gurun : “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2) Dengan bertobat yang sunguh TOBAT (bukan TOMAT = sekarang tobat besok kumat) seseroang akan mengarahkan diri ke pintu Kerahiman Ilahi. Arti ringkasnya “berdukacita” oleh karena hidup di dalam “kegelapan tanpa pencerahan.”

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5) Di balik yang kelihatan gagah, cantik, kaya, pandai, berpangkat dan berkedudukan, di hadapan sesama manusia, terlebih mereka yang di bawah itu, pada hakikatnya tersembunyi “ketidakpuasan.” Secara tidak sadar semua orang terdorong oleh bara api “ketidakpuasan” ini sehingga terjadi lomba kejar-mengejar (mencari untuk menemukan) dalam kehidupan ini. Bara api yang menyalakan “ketidakpuasan” adalah perasaan “belum puas” terhadap apa yang sudah kita miliki, mengapa ? Karena selama ini kita tidak pernah bisa mengendalikan pikiran :

“Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yak 1:14-15)

“Bumi” yang disebut Yesus bukanlah tanah lautan dengan segala kekayaan yang ada di dalamnya, namun “bumi” pikiran yang luasnya mampu menampung segala yang ada, semua benih (yang baik yang jahat) dapat ditabur, tumbuh, berkembang dan berbuah, inilah “buah” pikiran. Kondisi inilah yang mengilhami penulis Kitab Kejadian mengenai “rambu-rambu keselamatan” Allah dalam perikop “Manusia dan Taman Eden” :

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej 2:16-17)

Letak “Taman Eden“ tidak di negara Timur Jauh, juga tidak di benua manapun, melainkan di dalam diri kita masing-masing : “kehidupan” manusia diumpamakan “Taman Eden.”

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (Kej 3:7-8)

“…. bersembunyi di antara pohon-pohon dalam taman” meninjau bahwa manusia berada di bawah “ego pembelaan diri” (dalam kehidupan sehari-hari selalu kita jumpai orang yang jelas bersalah namun sulit mengakui kesalahannya). “Lemah lembut” yang menghantar seseorang masuk ke Kerajaan Allah tidak identik dengan sikap orang yang gemulai, santun atau amdap-asor terhadap sesama, akan tetapi “kerendahan hati” terhadap bimbingan dan kehendak Allah, mengosongkan pikiran dan membuka hati terhadap pimpinan Roh Allah :

“Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Gal 5:22-26)

“Kerendahan Hati” (awareness) akan menempatkan diri kita di bawah bimbingan Roh Kudus, istimewanya di sini “Roh Penguasaan Diri” seseorang akam dimampukan “menguasai” (memiliki) pikiran (bumi). Ketika seseorang mampu menguasai pikiran dan mengendalikan diri, maka saat inilah akan terlahir perasaan puas (berbahagia) sebab dekat dengan Allah …. berada di dalam Kerajaan Sorga.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat 5:6) Seseorang akan mengalami (merasakan) “kebahagiaan sejati” jika di dalam segala situasi tetap beada di “jalan yang benar” tidak melakukan yang jahat sekecil apapun. Inilah arah jalan menuju “kehidupan berkarakter” Kristen, mengikuti jejak Kristus yang mengetahui arti hidup ini. Orang yang melakukan kejahatan (termasuk koruptor) adalah orang yang tidak tahu arti hidup yang tunggal (hanya sekali) di dunia ini. “Lapar dan haus akan kebenaran” artinya berpuasa “tidak melakukan yang jahat” (dari sudut pandang Allah).

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7) Berangkat dari sinilah selangkah demi selangkah perjuangan berat melaksanakan Hukum Kristus :

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mrk 12:30-31)

Tanpa dasar (bekal) “murah hati” bagaimana kita dapat saling mengasihi ? Mengasihi sesama yang kelihatan saja susah, bagaimana pula mengasihi Allah yang tidak kelihatan. Tanpa motor penggerak “murah hati” tidak mungkin orang dapat “mengasihi dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan” sebagaimana perintah Kristus ? “Murah hati” di sini juga berkaitan erat dengan “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Mat 6:12) Tanpa adanya “murah hati” terlampau sulit untuk memaafkan kesalah orang lain. Pemahaman “murah hati” di sini tidak sebatas suka memberi / menolong sesama masalah “dunia benda” namun jauh lebih tinggi :

Kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Gal 6:1-9)

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8) Sebuah lagu yang dilantunkan seorang Da’i kondang sebagai nasihat kepada umat Allah kurang-lebih menunjuk ayat ini : “Jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini.” Keber-ADA-an Allah sesungguhnya tidak di sorga dalam pengertian jauh di atas angkasa biru, paradigma yang selama ini mencengkeram sebagian besar orang. Falsafah Jawa mengatakan : “dununging Allah adoh tanpo wangenan cedhak tanpo singgolan” (keber-ADA-an Allah jauh tanpa batas, dekat tanpa bersentuhan. Dan Raden Ngabehi Ronggowarsito mengatakan “Kabegjan sejati iku manunggaling kawulo lan Gusti” (kebahagiaan sejati adalah persatuan antara manusia dengan Allah).

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” Kej 3:8) “Hati” adalah “pusat taman” (rumah rohani) kita tempat mengalami merasakan kehadiran Allah, yang akan terjadi “pada waktu hari sejuk” (hening, suci). Pengalaman merasakan keber-ADA-an Allah, dengan kata lain “melihat Allah” inilah yang melahirkan “Kebahagiaan Sehati.”

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9) Kedamaian, ketenteraman dan ketenangan dalam kehidupan ini menjadi dambaan setiap insan, Khotbah di Bukit menyatakan dengan tegas, bahwa kedamaian, ketenteraman dan ketenangan, pangkal “kebahagiaan sejati” tidak ditentukan kepemilikan “dunia benda” (harta, uang, pangkat atau keuasaan), dan berangkat dari ketiga unsur tersebut kita berangkat menuju rumah idaman, yaitu kediaman abadi. Pengertian sempit yang selama ini menjadi kebanggaan, bahwa dengan menerima Sakramen Baptis berarti sudah menjadi anak angkat Allah dan mempunyai hak Kerajaan Sorga. Kita lupa terhadap prasyarat yang harus dipenuhi agar dapat diakui sebagai anak Allah, salah satunya yaitu “membawa damai” ke mana dan kapan saja.

Allah menciptakan alam raya, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ….” (Kej 1:25b-26) Berpegang pada kata “Kita” dapat dipastikan, bahwa “Pribadi Allah” tidak tunggal, selama ini kita berhenti pada perasaan “bangga” sebagai makhluk ciptaan termulia dari pada makhluk ciptaan yang lain, kita lupa akan tugas panggilan men-CITRA-kan Pribadi Allah yang tersamar di balik hidup dan kehidupan kita. Manusia diciptakan oleh Allah dikehendaki dijadikan citra-Nya. Allah menghendaki agar kita (manusia) mengungkapkan “Kebaikan” Allah kepada segala ciptaan, sebab manusia diciptakan dari debu tanah dalam pengertian tidak memiliki “kebaikan,” dengan pengertian lain “kebaikan” sekecil apapun dalam diri kita adalah milik Allah.

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persem-bahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.” (Mat 5:22-24)

Bagaimana kita akan “berdamai” dengan Allah kalau kalau tidak didahului oleh “berdamai” dengan sesama, dan bagaimana kita akan “berdamai” dengan sesama kalau di dalam diri kita sendiri tidak ada “perdamaian?” Syarat utama bagi seserang yang mempunyai niat “membawa damai” bagi sesama adalah “damai dalam diri sendiri,” yaitu perseteruan antara “kehendak daging” (pikiran) dengan “kehendak roh” (jiwa atau rohani). Kata “engkau dengan lawanmu” tidak hanya menunjuk orang lain sebagai “musuh,” pertama-tama menunjuk kepada pribadi kita masing-masing. Kepribadian (spiritualitas) manusia seutuhnya dihidupi oleh tiga unsur, yaitu tubuh, jiwa dan roh (milik Allah sebagai pinjaman). Dari sini kita dapat memberi arti lebih luas mengenai manusia sebagai “gambar dan rupa” (citra) Allah, Tritunggal Mahakudus.

Kalaulah antara pikiran (kemauan daging), hati (kemauan jiwa) dan nurani (kemauan Roh) di dalam diri kita masing-masing ada integritas yang baik, niscaya akan tercipta “kedamaian” (ketentraman, ketenangan). Inilah “kedamaian hakiki” harta milik yang kita bawa dan kita bagikan di sepanjang jalan kehidupan, dalam rangka menanggapi panggilan ilahi, ialah menjadi citra-Nya. Di sana telah disediakan “Kebahagiaan Sejati.”

Di mana pun dan kapan pun kita berada dengan modal “kedamaian hakiki” akan memberi dampak positif, kehadiran kita ke tengah konflik akan mendatangkan perdamaian, dan kita akan bahagia. Setelah menerima pembekalan di puncak bukit, dengan tetap dalam bimbingan dan maungan-Nya dalam Roh Kudus, kita turun ke dunia ramai dengan status baru, yaitu sebagai Saksi Kristus (evangelization).

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10-10) Ungkapan Yesus ini menunjuk masa depan Yesus, Dia sudah tahu apa yang akan terjadi pada Diri-Nya, demi kasih-Nya kepada sesama serta menegakkan “kebenaran Allah,” Ia dengan gagah berani menerima penyiksaan, dengan tabah mengalami kesakitan yang luar biasa, dengan lepas bebas menyambut Salib Kunci Kerajaan Sorga bagi umat manusia. Yesus sendiri senantiara datang menimba kekuatan kepada Allah (Bapa), banyak disebut dalam Injil, Yesus pergi menyendiri untuk berdoa dan Ia selalu bersyukur. Yesus telah berhasil merintis jalan ke sorga, dan Allah menganugerahkan Nama yang mengatasi segala nama. Cara hidup Kristus menguatkan kita dalam perjuangan mengikuti jejak-Nya

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat 5:11) Selama ini kita sudah merasakan betapa berat “salib” (penderitaan) demi kepentingan kebutuhan sehari-hari, namun bukan “salib” tersebut yang dimaksud Salib Kristus untuk kehidupan yang akan datang, di tempat mana tak ada lagi sakit–penyakit, tidak ada lagi keluh kesah dan ratap tangis. “Salib Kristus” adalah “penderitaan” dalam rangka ambil bagian “mewartakan Kabar Gembira” membangun “Habitus Baru.” Untuk itulah Yesus memberi semangat dan kekuatan yang tidak ada bandingnya, dalam bekerja mencari dan mengumpulkan material untuk membangun rumah masa depan yang tidak mengenal hujan dan panas : “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:12)

Di zaman yang sarat dengan kecanggihan ini kita dapat datang kepada Allah atau kepada Yesus untuk memohon petunjuk dan bimbingan-Nya dengan berbagai cara, kita bisa mendaki bukit-bukit kecil yang berbentuk doa hening, meditasi, menghadiri peribadatan di lingkungan / wilayah terlebih Misa Hari Minggu di gereja, mengiikuti retret atau seminar dsb. “Bukit” di mana terdapat bimbingan Allah yang melimpah tersebar di sepanjang Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Selama hidup dan berkarya di dunia, Yesus sendiri selalu bolak-balik ke “bukit” berkomunikasi dengan Allah (Bapa) :

  • Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:23)
  • Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Mrk 1:35)
  • Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. (Mrk 6:46)
  • Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa. (Luk 5:16)
  • Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. (Luk 6:12)
  • Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri ….. (Luk 9:18)
  • Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28)

Dalam situasi kehidupan yang semakin panas dan keras ini, kapan pun dan di mana pun kita dapat mengalami ke puncak bukit, merasakan kehadiran dan kesejukan Tuhan di bukit pribadi kita masing-masing, letaknya terlampau dekat dan bebas biaya transport, yaitu di Taman Hati : “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:6)

Semoga Khotbah di Bukit atau Sabda Bahagia memampukan kita menghadapi kehidupan nyata serta menguatkan untuk menjadi TERANG DAN GARAM DUNIA : “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat 5:13)

KEBAHAGIAAN model Kristus “menemukan kasih dengan memberikan kasih.” Kalau kita melihat penderitaan di dunia, jelas yang muncul sebagian besar rasa sakit yg disebabkan oleh sikap mengambil (mencari, menginginkan) kasih. Memikirkan apa yg kita sendiri inginkan menimbulkan rasa sakit, buktikan ! Dari pada berkonsentrasi pada apa yang kita inginkan, lebih baik memiikirkan apa yang dapat kita berikan kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s