Mendengarkan Tuhan Bercerita | BKSN 2011

“Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”
(Mat 13:35)
“Bagi umat beriman kristiani
jalan menuju Kitab Suci harus dibuka lebar-lebar.”
(Dei Verbum 22)

BAGIAN I : PERUMPAMAAN

Bercerita merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengajar. Dengan memakai cerita atau dongeng, seorang pengajar dapat membawa para pendengarnya masuk ke dunia yang bukan milik mereka. Jika pencerita adalah seorang yang ahli, apa yang diceritakannya dapat sungguh hidup dan seolah-olah nyata hadir di hadapan para pendengarnya. Pada saat itu pendengar dapat mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokohnya, mengambil pelajaran dari isi cerita, membuat perbandingan antara apa yang diceritakan dengan dunianya yang nyata. Mereka terlibat secara emosional, ikut sedih jika ceritanya bernada sedih, ikut gembira jika ceritanya bernada gembira. Dengan adanya keterlibatan aktif pendengar, pencerita dapat memasukkan pesan-pesannya ke dalam cerita dengan lebih mudah. Suatu cerita yang bagus dan diceritakan dengan menarik akan mampu menumbuhkan cara pandang, sikap, pencerahan, opini yang baru bagi pendengarnya. Bahkan pendengar dapat dibantu untuk mengambil keputusan terntentu lewat cerita yang didengarnya.

Ketika mengajar para murid dan orang banyak, Yesus kerapkali menggunakan cerita yang berupa perumpamaan. Sepertiga pengajaran Yesus di dalam Injil disampaikan dalam bentuk perumpamaan. Ada 11 perumpamaan yang terdapat pada ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), 9 perumpamaan terdapat pada Matius dan Lukas, 10 perumpamaan hanya terdapat pada Matius, 15 perumpamaan hanya ada pada Lukas, dan ada 2 perumpamaan hanya terdapat pada Yohanes. Perumpamaan yang dipakai oleh Yesus disertai dengan pesan-pesan tertentu yang menantang para pendengar-Nya untuk aktif berpikir, bertanya, menentukan pilihan, mengubah sikap dan cara pandang. Perumpamaan Yesus juga sering membuat para lawan-Nya tersindir, jengkel, bahkan marah.

Yesus bukanlah orang pertama yang memakai perumpamaan untuk mengajar karena di dalam Perjanjian Lama terdapat sejumlah perumpamaan yang dipakai untuk tujuan pewartaan. Misalnya,kisah tentang orang miskin dan anak dombanya yang disampaikan oleh Natan kepada Daud (II Sam 12:1-10), perempuan Tekoa dengan dua anaknya (II Sam 14:5-20),perumpamaan yang berkaitan dengan hukuman terhadap raja Ahab (I Raj 20:35-40), nyanyian kebun anggur (Yes 5:1-7), rajawali dan pohon anggur (Yeh 17:2-10), singa betina dan anaknya (Yeh 19:2-9), pohon anggur (Yeh 19:10-14), fabel tentang pohon-pohon yang mencari raja (Hak 9:7-15), dan rumput duri dan aras Libanon (II Raj 14:19). Dari semua perumpamaan tersebut hanya perumpamaan yang dikisahkan oleh Natan di hadapan Daud (II Sam 12:1-10) yang mempunyai kemiripan dengan perumpamaan Yesus dari segi bentuk, tujuan, dan teknik pengisahannya. Sebenarnya para rabbi sebelum dan sezaman dengan Yesus juga sering memakai perumpamaan di dalam mengajar. Mereka memakai perumpamaan untuk menjelaskan isi Hukum Taurat. Yesus tidak memakai perumpamaan untuk menjelaskan Taurat, tetapi untuk mewartakan Kerajaan Allah dan berbagai pengajaran lain.

Terminologi

Dalam bahasa Yunani, perumpamaan disebut parabole, gabungan dari kata para dan ballo yang secara harafiah berarti “menempatkan di samping” atau “mensejajarkan” untuk dibandingkan. Perumpamaan adalah gaya berbicara dengan memakai perbandingan. Istilah Yunani parabole mempunyai arti yang luas, karena menerjemahkan kata Ibrani masal (mashal) yang bisa berupa teka teki, pepatah, kiasan, metafora, dan perumpamaan. Masal adalah sebuah ungkapan atau cerita singkat dengan makna terselubung yang dimaksudkan untuk memancing refleksi atau pemikiran dari pendengarnya. Tidak semua gaya bicara perbandingan yang oleh Injil disebut sebagai perumpamaan adalah sebuah perumpamaan dalam arti sebenarnya. banyak di antaranya lebih cocok disebut sebagai :

a. Teka-Teki: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Mrk. 7:15; bdk. ay.17).
b. Pepatah: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKU: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” (Luk.4:23)
c. Metafora: “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia …” (Mat 5:14-14).
d. Kiasan: Dan Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal kerajaan sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Mat 13:33)
e. Peribahasa: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11)

Perumpamaan

Perumpamaan dalam arti yang sebenarnya adalah sebuah kisah pendek dari kehidupan sehari-hari yang dipakai sebagai perbandingan untuk menjelaskan ajaran tentang kebenaran, iman atau moral. Perbandingan yang dipakai sebagai perumpamaan dimaksudkan untuk memancing tanggapan aktif dari para pendengar. Unsur-unsur dalam perumpamaan dipakai untuk mendukung pesan utama yang mau disampaikan. Detail-detail perumpamaan kerap kali tidak begitu diutamakan.

Perumpamaan mempunyai makna ganda, yaitu makna literer dan makna rohani. Misalnya perumpamaan tentang biji sesawi mengajak pendengar atau pembaca membayangkan proses pertumbuhan dari biji yang amat kecil menjadi pohon yang besar dan memberi keteduhan bagi burung-burung. Di balik kisah itu, Yesus mengajak pendengar-Nya membayangkan proses pertumbuhan Kerajaan Allah yang dimulai dari keutamaan-keutamaan yang sederhana dan mungkin tidak kelihatan sampai akhirnya menjadi suatu karya raksasa dimana Allah diakui sebagai Raja di tengah umat-Nya. Seperti pertumbuhan benih yang terjadi atas penyelenggaraan Allah, demikian pula pertumbuhan Kerajaan Allah tidak lepas dari penyelenggaraan-Nya. Karena berisi pengajaran rohani yang dalam, perumpamaan Yesus sering disebut sebagai kisah duniawi yang mempunyai arti sorgawi.

Dari segi isinya, perumpamaan Yesus menampilkan hal-hal yang bersifat dinamis. Yesus tidak berbicara mengenai suatu keadaan, tetapi suatu gerakan, tindakan, ralitas yang dinamis. Perumpamaan-perumpamaan bukanlah paparan ide yang teoritis dan abstrak, tetapi tuntunan praktis yang menantang orang untuk mengambil tindakan. Yesus memakai perumpamaan tentang orang yang menabur, mengampuni, menolong, menemukan hal berharga, berdoa, proses pertumbuhan benih, pencarian, dan sebagainya. Misalnya, perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati menggambarkan tindakan dari seseorang yang berhati tulus. Demikian pula Kerajaan Allah tidak digambarkan sebagai suatu tempat yang indah di luar kehidupan manusia, tetapi digambarkan sebagai suatu proses dinamis dimana setiap orang diundang untuk bertindak, memilih, dan menentukan sikap.

Perumpamaan dan Alegori

Dalam arti sempit perumpamaan dibedakan dari alegori. Alegori adalah cerita singkat yang memuat berbagai unsur yang masing-masing mempunyai arti. Karena masing-masing unsur mempunyai arti, alegori sering disebut sebagai rangkaian metafora atau kiasan yang diperluas. Contoh dari perumpamaan yang harus ditafsirkan sebagai alegori :

  • Perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat 13:24-30:36-43)
  • Perumpamaan tentang penabur benih (Mat 13:1-23)

Unsur-unsur yang membentuk kisah tersebut memiliki lambang sesuatu (orang, keadaan atau benda). Dalam perumpamaan tentang lalang di ladang gandum, ada unsur pemilik ladang, biji gandum, biji ilalang, musuh, pekerja. Makna dari unsur-unsur tersebut dijelaskan oleh Yesus dalam Mat13:36-43. Demikian pula alegori penabur benih (Mat13:3-9) mempunyai unsur-unsur yang melambangkan sesuatu, yaitu benih melambangkan sabda Allah, berbagai jenis tanah melambangkan penerima sabda yang berbeda-beda kondisi serta disposisinya, dan penabur benih menunjuk pada pewarta sabda.

Perumpamaan dan Similitude

Dalam arti luas perumpamaan juga mencakup similitude, walaupun dalam arti sempit keduanya berbeda. Perbedaannya terletak pada sumber perbandingan yang dipergunakan. Gambaran yang diambil dalam similitude diambil kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, hal yang biasa dan diketahui oleh semua orang. Misalnya cara para perempuan mempergunakan ragi (Mat 13:33), apa yang terjadi ketika orang menabur biji sesawi (Mat 31-32), cara seorang majikan memperlakukan budaknya (Luk 17:7-10), bagaimana seorang ayah memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anaknya (Luk 11:11-13), kegembiraan orang yang menemukan domba atau dirhamnya yang hilang (Luk 15:4-10). Karena gambaran yang dipergunakan diambil dari kehidupan nyata yang biasa dialami oleh semua orang, similitude diawali dengan frasa berikut:

  • Jika seorang di antara kamu mempunyai (Luk 11:5)
  • Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara (Luk 14:28)
  • Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba (Luk 15:4)

Berbeda dari similitude, perumpamaan dalam arti sempit mengambil gambaran dari sebuah kejadian yang hanya terjadi satu kali. Kejadian itu diceritakan dengan cara yang hidup dan menarik sehingga orang yang mendengarnya tidak mempertanyakan apakah cerita yang sedang di-dengarnya itu terjadi sungguh-sungguh atau tidak. Cerita yang dibuat dalam perumpamaan sering kali bertentangan dengan kenyataan yang biasa terjadi, sehingga menarik untuk mendengarkannya. Apa yang diceritakan hanya terjadi atau dilakukan oleh tokoh dalam cerita tersebut, pada umumnya orang tidak akan mengalami atau melakukan hal seperti itu.

  • Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. (Luk 16:1)
  • Seorang mempunyai dua anak laki-laki. (Mat 21:28)
  • Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. (Luk 14:16)
  • Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormat seorang pun. (Luk 18:2)

Yesus dan Perumpamaan

Pada bagian awal telah diuraikan bahwa sepertiga dari pengajaran Yesus disampaikan-Nya dalam bentuk perumpamaan. Sekarang kita akan melihat kapan Yesus mempergunakan perumpamaan, bagaimana Ia memper-gunakannya, dan mengapa Ia memilih mempergunakan perumpamaan.

Kapan Perumpamaan Digunakan?

Mengajar | Yesus mempergunakan perumpamaan untuk menyampaikan pesan pokok dari ajaran yang hendak disampaikan-Nya. Dengan cara demikian Ia tidak hanya berbicara kepada pikiran para pendengar-Nya, tetapi juga kepada hati mereka. Dengan memakai perumpamaan, para pendengar diundang untuk berpikir, berpendapat, mengambil sikap, bahkan mengubah sikapnya untuk diselaraskan dengan ajaran Yesus.

Meskipun Yesus terkesan memakai perumpamaan sebagai pengajaran terselubung, namun tujuan utamanya adalah memberi pencerahan. Pada kenyataannya, berbagai perumpamaan Yesus berfungsi secara efektif untuk membantu pemahaman atas ajaran-Nya. Kita dapat mengambil contoh dari cara Yesus mengajarkan arti Kerajaan Allah. Dalam Markus 4:30 Yesus berkata, “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?” Kelihatan di sini bahwa Yesus mencari cara agar misteri Kerajaan Allah dapat dipahami lewat perumpamaan. Dan tidak bermaksud menyelubungi ajaran-Nya tetapi justeru mencari cara agar pengajaran-Nya tentang Kerajaan Allah dapat dipahami sesuai dengan daya tangkap pendengarNya.

Kontroversi | Beberapa perumpamaan dikisahkan oleh Yesus dalam rangka kontroversi melawan orang-orang yang tidak setuju dengan sikap-Nya, ingin mencobai-Nya, dan mencari-cari kesalahan-Nya. Terhadap serangan mereka, Yesus memberi tanggapan dengan hati-hati dan cerdik. Yesus tahu bahwa jawaban yang tidak taktis akan membawa resiko. Perumpamaan yang dikisahkan oleh Yesus untuk menanggapi para lawan-Nya antara lain perumpamaan tentang Anak Yang Hilang (Luk 15), perumpamaan tentang Orang Samaria Yang Baik Hati (Luk 10:25-37), Para Penggarap Kebun Anggur (Mrk 12:1-12). Lewat ketiga perumpamaan tersebut, Yesus bermaksud menunjukkan sikap Allah terhadap pendosa, meluruskan cara pandang tentang sesama, dan menyindir para lawan-Nya sebagai musuh para utusan Allah. Dalam Mrk 3:22-23 dikatakan:

Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,” dan, “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana iblis dapat mengusir iblis? …”

Tanggapan umat terhadap perumpamaan tidak selalu positif. Ada perumpamaan Yesus yang ditanggapi secara negatif. Para lawan-Nya menjadi marah karena tahu bahwa perumpamaan yang dikisahkan Yesus menyindir mereka. Kena sindiran lewat perumpamaan. Karena itu seperti dikatakan dalam Mrk 12:12 (bdk Luk 20:19).

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkanNya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Rupanya Yesus tidak hanya memakai perumpamaan untuk membela diri terhadap lawan, tetapi juga untuk menyindir sikap mereka. Sindiran itu dimaksudkan untuk menyadarkan bukan untuk menghina. Dengan begitu tidak semestinya mereka menjadi marah.

Alasan Penggunaan

Ketika ditanya oleh para murid, Yesus memberi alasan mengapa Dia mengajar dengan perumpamaan:

Mat 13:10-14:

Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perum-pamaan?” Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehin gga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.

Mat 13:34-35:

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (bdk. Mrk 4:33-34)

Mungkin alasan yang dipakai oleh Yesus cukup sulit kita pahami dan kita terima dengan pemikiran manusia. Bukankah perumpamaan dipakai dalam rangka mengajar yang intinya membuka pikiran para pendengar? Para pendengar dipersilakan untuk menemukan artinya. Ternyata tidak semua perumpamaan Yesus serta merta jelas artinya, bahkan para murid juga kesulitan menangkap maksudnya. Karena itu Yesus menjelaskan arti perumpamaan kepada para murid, tetapi tidak ada penjelasan bagi pendengar lainnya. Persis seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Mrk 4:11-12 :

“Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”

Kutipan yang diambil Yesus dari kitab nabi Yesaya ini termasuk sulit untuk ditafsirkan. Jika perumpamaan dibiarkan sebagai kisah yang sulit dipahami, lalu untuk apa dipakai sebagai cara mengajar? Tentunya bukanlah maksud Yesus memakai perumpamaan sebagai cara mengaburkan ajaran. Ketidak-jelasan dalam memahami arti perumpamaan disebabkan oleh tidak adanya atau kurang adanya iman. Apa yang disampaikan oleh Yesus dalam perumpamaan perlu ditanggapi dengan iman. Di antara pendengar Yesus ada orang-orang yang tertutup hatinya terhadap ajaran-Nya. Mereka sering disebut orang yang bebal, menurut istilah Kitab Suci. Mereka melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mengerti. Kita tidak perlu menasirkan secara harafiah. Dari konteksnya, ungkapan ekstrim ini merupakan ajakan agar para pendengar aktif mencari makna dari perumpamaan dengan bekal iman. Tanpa adanya iman, tentu sulit memahami maksud perumpamaan Yesus yang terkait erat dengan pewartaan keselamatan dari-Nya.

Cara Menggunakan

Dari pengamatan terhadap cara pengisahannya, tema-temanya, konteksnya, tujuannya, tampak jelas bahwa Yesus menggunakan perumpamaan dengan cara tertentu. Itulah sebabnya perumpamaan Yesus terasa menarik dan efektif sebagai cara mengajar. Hal yang tampak menonjol dalam cara Yesus mengajar ialah interaksi-Nya dengan para pendengar. Ia tidak melulu berbicara tanpa peduli apakah orang-orang yang di hadapan-Nya mendengarkan atau tidak. Ia selalu menjalin interaksi dengan para pendegar-Nya dan membuat mereka terlibat di dalam ajaran yang disam-paikan-Nya.

Yesus mengambil bahan perumpamaan dari pengalaman hidup sehari-hari. Para pendengar tidak asing lagi dengan hal-hal yang dipakai di dalam perumpamaan. Yesus memanfaatkan apa yang diketahui para pendengar-Nya tentang benih, ternak, sistem sosial, anggur, relasi keluarga, tradisi perkawinan, relasi tuan dan hamba. Cara yang terbaik untuk menuntun seseorang untuk sampai kepada pemahaman yang baru adalah lewat pengalaman hidup sehari-hari. Kesadaran baru tersebut diharapkan menumbuhkan sikap yang baru pula, yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mengisahkan perumpamaan, kerap kali Yesus mengajukan pertanyaan retoris, misalnya:

“Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu?” (Mrk 12:9).

“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” (Mat 21:31)

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Luk 10:36).

“Bagaimana menurut pendapatmu?” (Mat 18:12)

Pertanyaan retorik yang diajukan oleh Yesus dimaksudkan untuk mengajak pendengar aktif berpikir dan berpendapat. Pertanyaan ini mengandaikan bahwa para pendengar dapat memberi jawaban seperti yang diharapkan oleh Yesus.

Selain mengajukan pertanyaan retoris, Yesus juga menggunakan bentuk afirmasi atau pertanyaan yang berfungsi untuk menegaskan pendapat:

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.” (Luk 12:39; Mat 24:43)

“Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu” (Luk 14:24)

“Kita patut bersuka cita dan bergembira karena adikmua telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15: 32).

Untuk mempertajam pesan perumpamaan, Yesus kerapkali memaparkan dua pendapat yang berlawanan. Yang dilawankan adalah pendapat para pendengar dengan pendapat Yesus sendiri. Sebagai contoh, perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur yang mulai bekerja pada waktu yang berbeda (Mat 20:1-15). Ada yang bekerja dari pagi sampai sora hari, ada yang setengah hari, ada yang baru mulai bekerja pada sore hari. Para pendengar secara spontan tentu tidak setuju jika setiap pekerja diberi upah yang sama. Apa yang dilakukan oleh pemilik kebun anggur adalah suatu ketidakadilan. Jawaban pemilik kebun anggur mewakili pendapat Yesus:

“Ambillah bagianmu dan pergilah, aku memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:14-15).

Hal yang sama dilakukan oleh Yesus pada perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Protes anak sulung mewakili sikap sejumlah pendengar-Nya yang tidak senang ketika Yesus bergaul dengan para pendosa. Banyak pembaca yang memaklumi sikap anak sulung. Namun dengan cara kontroversial itu, Yesus justeru mampu memberi suatu pesan yang jelas tentang kemurahan hati Allah bagi umat-Nya. Yang namanya kemurahan memang lepas dari hukum keadilan. Contoh lain dari unsur perlawanan ini terlihat pula pada perumpamaan tentang dua orang anak (Mat 21:18-31), perumpamaan tentang perjamuan kawin (Luk 14:16-24), perumpamaan tentang lalang di ladang gandum (Mat 13:24-30).

BAGIAN II : EKSPOSISI

Ada empat perumpamaan yang dipilih untuk dijadikan bahan renungan serta pembelajaran bersama dalam Bulan Kitab Suci ini, yaitu:

  1. Orang Samaria Yang Baik Hati (Luk10:25-37)
  2. Anak Yang Hilang (Luk 15:1-32)
  3. Lalang di Ladang Gandum (Mat 13:24-30)
  4. Pengampunan (Mat 18:21-35).

Kedua perumpamaan yang pertama hanya terdapat di dalam Injil Lukas, sedang kedua perumpamaan terakhir hanya terdapat di dalam Injil Matius. Pemilihan keempat perumpamaan tersebut didasari oleh isinya yang relevan untuk situasi kita bersama saat ini. Kita mencoba bersama-sama menggali pesan-pesan perumpamaan dalam bentuk sharing, berbagi pengalaman dan berbagi pendapat.

Perumpamaan tenang “Orang Samaria Yang Baik Hati” (Luk 10:25-37) mengundang kita untuk memahami ajaran Yesus tentang “bertindak sebagai sesama”. Masyarakat kita saat ini mudah dikotak-kotakkan berdasarkan etnis, agama, kedudukan, status, kekayaan, pendidikan dan sebagainya. Situasi terkotak-kotak tersebut kerap kali membuat orang cenderung bertanya siapakah lawan dan siapakah kawan? Dengan perumpamaan itu, Yesus mengajak kita keluar dari pertanyaan “siapakah sesamaku manusia” dan beralih ke pertanyaan “bagaimana aku dapat menjadi sesama”. Bagi kita, semua manusia adalah sesama. Yang lebih penting adalah mencari cara agar kita dapat menjadi sesama yang baik bagi yang lain, terutama bagi sanak saudara yang menderita dan membutuhkan pertolongan.

Perumpamaan tentang “Anak Yang Hilang” (Luk 15:1-32) terdiri atas tiga perumpamaan untuk mengingatkan kita pada upaya Allah untuk mencari para pendosa dan menyelamatkan mereka. Perumpamaan ini diawali dengan kritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus yang menerima para pendosa dan bahkan makan bersama mereka. Di zaman sekarang banyak orang merasa diri bersih dan merasa berhak menghakimi orang lain yang dianggapnya pendosa. Kita bisa melihat masyarakat Indonesia yang secara sekilas dari luar sangat agamis dan menganggap paling suci dan baik, tetapi kenyataannya penuh kebusukan, kemunafikan, korupsi dan sebagainya, sangat mirip dengan situasi pada zaman Yesus. Yesus mengingatkan kita agar meninggalkan sifat sombong dan suka merendahkan mereka yang kita anggap berdosa. Kita perlu meniru sikap Allah yang ditunjukkan oleh Yesus, yaitu mengharapkan para pendosa bertobat dan menerimanya sebagai umat-Nya.

Perumpamaan tentang Lalang di Ladang Gandum (Mat 13:24-30) menun-jukkan kepada kita kenyataan di dunia ini, dimana orang jahat dan orang baik hidup bersama. Ada kekhawatiran bahwa orang-orang baik akan tergoda menjadi jahat. Hamba-hamba pemilik ladang di dalam perumpamaan ini mewakili keinginan banyak orang di zaman kita untuk mengenyahkan para pendosa dari antara umat Allah. Namun, pemilik kebun tidak mengizinkan mereka mencabuti lalang dari gandum. Biarlah semuanya tumbuh bersama sampai saat pengadilan terakhir. Lalang tidak mungkin berubah menjadi gandum, tetapi kaum pendosa masih mungkin menjadi orang baik.

Perumpamaan tentang pengampunan (Mat 18:21-35) menegaskan gambaran Allah yang maha pengampun, yang menghendaki agar umat-Nya mampu saling mengampuni. Alasan dasar dari semangat pengampunan adalah karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita. Sebagai orang yang sudah diampuni seharusnya kita pun bersedia mengampuni sesama.

Pesan dari keempat perumpamaan tersebut di atas, terjalin erat dan saling melengkapi. Diharapkan keempat perumpamaan tersebut mengingatkan kita akan keprihatinan di zaman sekarang dan mengundang kita untuk mencari jalan keluarnya. kita diharapkan untuk membangun dunia yang lebih baik, yang saling mengasihi dan mengampuni. Tanpa ada semangat kasih dan pengampunan, tidak pernah akan ada damai di dunia ini.

BAGIAN III : PERTEMUAN LINGKUNGAN

  1. Lagu Pembuka
  2. Tanda Salib dan Salam
  3. Pengantar : Pada hari ini kita akan merenungkan perumpamaan tentang (untuk pertemuan pertama) Orang Samaria Yang Baik Hati (Luk10:25-37); (untuk pertemuan kedua) Anak Yang Hilang (Luk 15:1-32); (untuk pertemuan ketiga) Lalang di Ladang Gandum (Mat 13:24-30); (pertemuan keempat) Pengampunan (Mat 18:21-35)
  4. Doa Pembuka (doa bisa dirumuskan sendiri)
  5. “Mendengarkan Sabda Tuhan” : Injil terpilih dibacakan dengan jelas, tidak perlu buru-buru.
  6. Hening secukupnya (untuk menyimak, mengingat, membaca ulang dalam hati)
  7. “Mendengarkan Tuhan Bercerita” : Alkitab ditutup. Umat secara bergiliran menceritakan kembali isi kisah tersebut. Setiap umat bisa mengungkapkan cerita isi kisah tersebut dalam penggalan-penggalan cerita sesuai yang diingatnya ……. yang lain melanjutkan, bisa secara bergilir, bisa juga secara acak, spontan siapa yang siap untuk melanjutkan cerita tersebut, begitu seterusnya sampai kisah dalam perikop selesai.
  8. Frase (Memilih Kata / Idiom) : Kepada setiap peserta dipersilahkan untuk memilih salah satu “kata” yang menyentuh hati masing-masing. Bebas, kata apa saja yang penting ada dalam perikop, atau dibatasi (diarahkan), misalnya memilih “kata kerja saja” atau dibatasi hal lainnya. Pada proses ini hendaknya diberi waktu yang cukup untuk merenung, membaca ulang dalam hati, dan menentukan kata yang dipilihnya.
  9. Pengungkapan Frase : Peserta diberi kesempatan untuk menyebutkan kata yang telah dipilihnya. “Menyebut saja” tanpa ada tambahan apa pun, misalnya : “tidak berdaya” atau “berat” atau yang lain, secara bergilir atau secara spontan bagi yang sudah menemukannya dan siap mengungkapkannya.
  10. Refleksi Pribadi : Setelah semua mengungkapkan kata pilihan atau dirasa cukup, pemandu mengajak peserta untuk meninjau kembali “kata” pilihannya, dengan bantuan pertanyaan yang tersedia dalam Buku Panduan BKSN 2011, atau disiapkan sendiri seperti contoh berikut : “Mengapa kata itu muncul dalam hati saya dan saya pilih untuk diungkapkan? Apa hubungan “kata” tersebut dengan hidup saya sebelum ini? Kapan, dimana, bagaimana peristiwanya? Proses ini juga diberi waktu yang cukup untuk melakukan flash back terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah dialami oleh peserta dalam hubungannya dengan kata yang menjadi pilihannya.
  11. Sharing (Berbagi) : Peserta dipersilahkan mengungkapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan refleksi di atas. Di sini seyogyanya tidak dilakukan dengan model giliran / urut, tetapi bersifat terbuka bagi yang mau mengungkapkannya saja.
  12. Pemandu selalu mencatat, merangkum apa saja yang menjadi kata pilihan dari peserta, juga mencari benang merah dari ungkapan peserta untuk dihubungkan dengan “apa yang ingin dicapai” oleh masing-masing tema dalam setiap pertemuan.
  13. “Menanggapi Sabda Tuhan” : Masing-masing peserta dipersilahkan mencari bentuk “aksi” (membangun niat) pribadi didasarkan dari hasil “Frase” dengan bantuan pertanyaan refleksi, misalnya: “Dengan kata …… atau pengalaman masa lalu …… tersebut, untuk selanjutnya perbuatan nyata apa yang bisa saya perbuat agar saya bisa mewujudkan amanat Yesus yang ingin dicapai melalui perumpamaan tersebut. (Di sini pemandu sebaiknya tidak menyodorkan hal lain di luar apa yang telah diungkapkan oleh peserta).
  14. Aksi : Dapat dilakukan dalam bentuk Doa Spontan untuk mengungkapkan “niat pribadi” yang telah dipilihnya, bisa juga dalam bentuk lain seperti menulis niatnya dalam secarik kertas (tentu ini harus disiapkan kertas dan alat tulis sebelumnya jika pemandu memilih ini) lalu kertas dikumpulkan di depan untuk dipersembahkan dalam Doa Umat.
  15. Pemandu memberikan beberapa kalimat kesimpulan
  16. Doa Umat
  17. Doa Bapa Kami
  18. Doa Penutup
  19. Lagu Penutup
  20. Sayonara

Demikian salah satu langkah yang bisa kita laksanakan untuk penyajian materi pendalaman kitab suci tahun ini. Semoga bermanfaat bagi Anda, dan tentunya Anda tidak keberatan memberikan komentar, usul, saran, sharing agar kita semakin saling memperkaya yang pasti akan memperteguh iman kita, dan Tuhan semakin dimuliakan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s