Kitab Marmur

Kata Indonesia “Mazmur” yang lewat bahasa Arab berasal dari bahasa Etiopia, bersangkutan dengan kata Ibrani “Mizmor”. Kata ini menunjuk suatu lagu yang dinyanyikan dengan diiringi alat-alat musik (yang berupa-rupa) yang pakai tali. Sejak jaman azali bangsa Israil dan bangsa-bangsa Semit lainnya suka akan nyanyian (kerap kali seni sastera pertama dalam salah satu bahasa). Sisanya masih diketemukan dalam Kitab Suci (bdk. Pengk 15; C J. 21:17-18; Hakim-hakim 5; 2 Sam 1; 1Mak 3:3-9; 14:4-15). Juga untuk mengekspresikan rasa keagamaan seni sastera itu dipergunakan. Dan lagu-lagu keagamaan macam itu dinamakan mazmur. Mazmur-mazmur terserak-serak dalam seluruh Kitab Suci Perjanjian lama (bdk Ul 32:1-43; 1 Sam 2:1-10; Dan 3:52-90; 1Taw 29:10-19; Tb 13:1-8; Ydt 16:13-17; Yer 31:10-14; Yes 45:14-25; Sir 36:1-17) dan masih juga dalam Perjanjian Baru (Luk 1:68-79; 2:29-32; 1:46-55). Lagu-lagu macam itu bukan keistimewaan umat Israel. Di luar Israel, khususnya di negeri Babel, jenis sastera itu disukai dan sangat dipergunakan. Penggalian-penggalian di Mesopotamia sudah menampilkan sejumlah besar mazmur yang juga dipergunakan dalam ibadah kepada dewata Babel.

Jenis Sastera | Mazmur adalah seni sastera, puisi, dan jenis sastera yang khas. Mazmur bukanlah suatu risalat ilmiah, meski risalat keagamaan sekalipun. Ia pun bukan ceritera atau kisah. Memang mazmur-mazmur mengekspresikan pikiran (adakalanya sangat dalam dan halus sekali), tapi lebih-lebih mengungkapkan perasaan hati serta intuisi yang bermacam-ragam. Maka itu tidak semua perkataan boleh ditimbang-timbang dengan akal. Sebaliknya hanya dengan perasaan hati orang dapat menembusi kulit (kadang-kadang agak keras sedikit) untuk sampai kepada hati si pemazmur.

Mazmur bukan hanya seni sastera puisi, tetapi seni sastera Semit dan Israel. Puisi itu ada patokan-patokan dan kaidah-kaidahnya sendiri yang khas, yang dituruti oleh mazmur-mazmur Kitab Suci juga. Puisi itu berdasarkan pada rythmus, artinya: sukukata yang bertekanan dan yang tak bertekanan bergilir ganti menurut urutan tertentu. Biasanya tiap-tiap bagian (ayat) terdiri atas dua bagian lagi (stykhos), meskipun tidak selalu demikian susunannya. Kerap kali bagian kedua hanya mengulang dengan kata-kata lain pikiran-perasaan yang sudah terungkap dalam bagian pertama. Kadang-kadang diulang secara positip, lain kali secara negatif dan boleh jadi bagian kedua mengembangkan dan memperluas sedikit stykhos yang pertama. Gejala yang khas Ibrani (Semit) itu disebut “parallelismus”, kesejajaran. Apabila pikiran-perasaan stykhos pertama hanya diulang secara positif saja, maka orang berkata tentang: parallelismus sinonim (bdk. Mzm 61:2); jika pikiran-perasaan diulang secara negatip maka disebutkan: parallelismus anti-tetis (bdk Mzm 32:10); apabila pikiran-perasaan dikembangkan dan diperluas maka dikatakan: parallelismus sintetis (bdk Mzm 135:16).

Puisi Ibrani (Semit) suka akan bahasa kiasan, bahasa penghebat dan macam-macam gambaran yang hebat juga. Itulah sebabnya maka mazmur-mazmur kerap kali sukar dimengerti dan diartikan, apalagi oleh karena kiasan dan gambaran itu diambil dari alam dan kebudayaan yang bukan alam dan kebudayaan kita. Tetapi bagaimanapun juga kiasan dan gambaran itu jangan diartikan secara harfiah. Kadang-kadang kiasan Kitab Suci dapat membingungkan terutama kalau diterapkan kepada Allah sendiri yang nampak seolah-olah manusia (anthropomorphismus). Mazmur-mazmur bukan hanya senisastera (karap kali bermutu tinggi), tetapi terlebih puisi keagamaan. Lagu-lagu yang terpelihara dalam Alkitab adalah doa dan sembahyang umat Israel dan kaum beriman. Di dalamnya terungkap rasa keagamaan yang bermacam-macam dan tanggapan serta jawaban karya beriman dan umat Allah terhadap sabda Tuhan, tindakan-tindakan serta kaumnya. Dan itulah sebabnya maka mazmur-mazmur itu terpelihara dalam Kitab Suci dan diinspirasikan oleh Roh Kudus. Dengan mazmur-mazmur itu orang memuji Allah Pencipta (Maz 104) serta sifat-sifatnya (Mzm 113:7-9); orang bersyukur kepadaNya (Mzm 23); mengucapkan kepercayaan (Mzm 27:1-6) dan sesal hati (Mzm 51) serta permohonan dalam kesesakan (banyak mazmur).

Mazmur-mazmur bukan terutama doa saja tetapi juga dan terutama doa/sembahyang liturgis. Asal mazmur-mazmur kerap kali tidak lagi dapat ditentukan. Tapi pasti ada sejumlah lagu yang khusus diciptakan untuk ibadah umat (Mzm 65; 66; 67; 118; 113-117; 120; 134). Ada juga sejumlah yang diciptakan untuk keperluan perorangan dan pribadi (Mzm 30; 38; 70; 92; 94; 130; 131; dll.), tetapi kemudian dipakai dalam ibadah umat dan kalau perlu diadaptasikan kepadanya serta disadur. Corak liturgis mazmur-mazmur itu perlu diperhatikan, supaya lagu-lagu itu dimengerti dan diartikan dengan tepat.

Kitab Mazmur | Kitab Mazmur terdapat dalam bagian ketiga kanon Ibrani (kethubim). Dalam bahasa Arab kitab ini disebut “Zabur”, sedangkan dalam bahasa Ibrani dinamakan “Tehillim”. “Tehillim” sebenarnya berarti: lagu-lagu pujian/madah, sehingga nama itu tidak cocok dengan sebagian besar dari isi Kitab Mazmur. Sebab di dalamnya terkumpul lagu-lagu yang bermacam ragam dan hanya sebagian boleh disebut “Lagu Pujian”.

Kitab Mazmur sebagaimana sekarang ada terdiri atas lima bagian, jilid, sejalan dengan “Lima Kitab Musa” (Taurat). Tetapi pembagian itu agak baru sedikit. Kapan dibuat belum diketahui dengan pasti, tetapi sekitar tahun 250 seb. Mas. sudah ada (Terjemahan Yunani Septuaginta) dan boleh jadi sudah dikenal sekitar tahun 300 seb. Mas. (bdk, 1Taw 16. Tiap-tiap “buku”, jilid, ditutup dengan pujian pendek kepada Allah (Mzm 41:14; 72:18-20; 89:52; 106:48; 150).

Kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitab adalah merupakan hasil suatu perkembangan dan proses yang berlangsung lama. Kapan mazmur (manakah?) yang tertua diciptakan tidak dapat diketahui lagi. Tapi boleh diterima bahwa ada beberapa mazmur dari jaman raja Dawud (abad X seb. Mas.) dan ciptaan Dawud sendiri (bdk. 1 Sam 16:18-23; 18:10, Amos 6:5). Ada juga sejumlah mazmur yang kiranya berasal dari jaman para raja (lk. 900-600 seb. Mas.) (bdk. Mzm 2; 18; 20; 21; 28; 61; 63; 72; 84; 101; 110; 123; 144; 145). Tetapi senisastera itu mengalami masa jayanya terutama sesudah pembuangan (tahun 538-333 seb. Mas.)Terlebih dahulu pelbagai lagu dihimpun dalam kumpulan kecil dan tersendiri. Bekasnya masih diketemukan dalam Kitab Mazmur, misalnya: Mzm 95-100 (kerajaan Allah), Mzm 120-134 (nyanyian pendakian). Kemudian disusun kumpulan-kumpulan lebih besar, yaitu Mzm 3-41; 42-89; 90-150 Akhirnya semuanya menjadi satu kumpulan besar yang secara buat-buatan dibagikan jadi lima jilid.

Jenis-jenis Mazmur | Di dalam Kitab Mazmur terhimpun 150 lagu yang berlain-lainan coraknya. Secara kasar dapat dibedakan jenis-jenis mazmur sebagai berikut, meskipun pembagian itu tentu saja tidak merangkum semua lagu yang ada.

Lagu-lagu Pujian atau Madah (Mzm 8; 19; 29; 33; 46-48; 76; 84; 87; 93; 96; 100; 103-106; 113; 114; 117; 122; 135; 136; 145-150). Lagu-lagu ini memuji Allah, sifat-sifatnya serta karyaNya baik dalam alam maupun dalam sejarah umat Israel. Ada sejumlah mazmur yang memuji kota Sion, Yerusyalem, tidak hanya karena adalah kediaman raja teokratis, tapi lebih-lebih karena kota itu adalah kediaman Allah Israel (Mzm 46; 48; 76; 87). Demikianpun martabat kerajaan Allah (eskatologis) yang memerintah dunia semesta dimulaikan (Mzm 47; 93; 96-98).

Banyak mazmur berupa lagu ratap, yang diucapkan dalam kesesakan dan sengsara berupa-rupa. Kerap kali dengan bahasa kiasan dan penghebat dipaparkan di dalamnya sengsara si pendoa. Kiasan dan gambaran yang dipergunakan biasanya sangat tradisionil, sehingga kesamaan antara mazmur-mazmur itu sangat menyolok. Sifat tradisionil itupun menyebabkan pula bahwa sengsara konkrit kerap kali sukar ditentukan.

Ada sejumlah lagu ratap kolektip yang mengenai umat Allah seluruhnya (Mzm 12; 44; 60; 74; 79; 80; 83; 85; 106; 123; 129; 137) dan lebih banyak lagi yang merupakan lagu ratap perorangan dan pribadi (Mzm 3; 5-7; 13; 17; 22; 25; 26; 28; 31; 35; 38; 42; 43; 51-57; 59; 63; 64; 69; 70-71; 77; 86; 102; 120; 130; 140-143). Akan tetapi sehubungan dengan lagu-lagu ini perlu dicatat bahwa kerap kali tidak jelas apakah sipendoa sungguh adalah seseorang secara perseorangan atau wakil umat seluruhnya, mungkin pula umat diperorangkan. Maka itu kalaupun dalam mazmur-mazmur itu dipakai kata ganti diri pertama (aku) namun belum pasti bahwa “aku” itu sungguh hanya satu orang saja.

Lagu-lagu syukurpun tidak sedikitlah jumlahnya dalam Kitab Mazmur (Mzm 18; 21; 30; 34; 49; 65-68; 92; 116; 118; 124; 129; 138; 144). Umat (atau seseorang) mengucapkan syukurnya karena salah satu karunia yang diterima dari Tuhan. Kerap kali sekaligus dipanjatkan suatu doa permohonan meminta pertolongan selanjutnya juga.

Ada juga beberapa nyanyian yang berasal dari istana raja dan mengenai diri raja serta wangsanya (Mzm 2; 18; 20; 21; 45; 61; 72; 84; 101; 132; 144). Mazmur-mazmur ini mengingatkan kepada sastera-istana yang lazim di daerah-daerah di sekitar Israel. Beberapa dari mazmur itu diterapkan kepada raja yang dicita-citakan di masa depan, yaitu al-Masih (Mzm 2; 45; 72; 110; bdk Mzm 89; 132)

Penulis-penulis Mazmur | Tentang pengarang-pengarang/pencipta-pencipta mazmur-mazmur tidak banyak yang dapat dikatakan dengan pasti. Dalam judul banyak mazmur disebutkan nama seseorang: Dawud (73x), Asaf (12x), Putera-putera Korah (11x), Etan (Yedutun)(1x), Heman (1x), Musa (1x), dan Sulaiman (1x). Maksud nama (dan konstruksi Ibrani: le) tidak jelas lagi. Aselinya kiranya tidak (selalu) menunjukkan pencipta lagu itu. Hanya kemudian sering diartikan demikian. Maka dari itu harus diakui saja bahwa hampir semua mazmur adalah anonim dan hanya dapat disebut “ciptaan umat Israel” sepanjang sejarahnya dari abad X hingga abad III seb. Mas. Sebab kebanyakan mazmur juga tidak dapat diberi bertanggal.

Penyesuaian mazmur-mazmur dengan wahyu yang maju | Setelah salah satu mazmur diciptakan dalam situasi tertentu dan diambil alih oleh umat, maka lagu itu ikut serta dalam sejarah keagamaan umat itu. Terus-menerus diadaptasikan kepada situasi yang baru. Dengan demikian interpretasi mazmur yang sama maju dan berkembang. Perkembangan itu boleh digariskan sebagai berikut: Salah seorang (atau umat pada detik tertentu) mengucapkan perasaannya pada ketika itu.

Umat mengambil alih lagu itu tapi mengungkapkan dengannya perasaan yang kolektip. Kemudian keadaan umat berubah dan kepada mazmur yang lama itu diberikan suatu tafsir baru sesuai dengan keadaan baru itu.

Umat Kristen kembali menginterpretasikan lagu itu serta mengetrapkannya pada situasi khasnya, yakni situasi masehi. Maka dari itu banyak mazmur diberi makna masehi, sekalipun begitu saja tidak dapat diketemukan dalam lagu aseli. Boleh jadi Gereja dalam ibadahnya sekali lagi dan secara lain mengetrapkan mazmur yang sama.

Akhirnya masih mungkin bahwa orang Kristen secara perorangan mengungkapkan perasaan pribadinya dengan perkataan azali itu. Sebagai contoh boleh diambil Mazmur 2. Aselinya lagu itu merupakan suatu doa seorang Israel (pegawai istana) untuk rajanya ketika terancam oleh musuh-musuh dari luar negeri.

Ibadah Bait Allah menjadikan mazmur itu suatu doa resmi dan liturgis bagi setiap raja, entah bagaimana keadaannya. Sesudah tahun 586 raja tidak ada lagi, sehingga lagu kuno itu harus diberi makna baru. Maka itu diterapkan kepada raja yang di masa depan, yaitu Al-Masih.

Umat Kristen semula mengakui Yesus sebagai Al-Masih dan karenanya segera mengetrapkan mazmur itu kepada Rajanya (Kis 4:25-26), khususnya kepada kebangkitanNya dari alam maut yang merupakan pelantikannya sebagai raja (Kis 4:33). Surat kepada orang-orang Ibrani (1:5; 5:5) mengetrapkannya kepada pelantikan Kristus sebagai imam agung surgawi.

Ibadah Katolik akhirnya menggunakan mazmur ini untuk mengungkapkan keyakinannya bahwa Kristus adalah raja dunia semesta. MartabatNya itu berdasarkan kenyataan bahwa Kristus adalah Putera Allah kekal yang telah menjadi manusia dan diangkat kesurga. Ia menjadi kepala jagat raya.

Orang Kristen masing-masing boleh menggunakan lagu kuno itu untuk menyatakan rasa hormatnya terhadap Kristus dan demikian mangakuiNya sebagai rajaNya sendiri yang mau ditaati.

Mazmur-Mazmur Sulaiman | Mazmur-mazmur Sulaiman adalah sekumpulan lagu, yang 18 jumlahnya. Lagu-lagu itu diciptakan waktu Yerusalem direbut oleh panglima Roma, Pompeius dalam tahun 63 seb. Mas. Aselinya ditulis dalam bahasa Ibrani tapi lengkap hanya terpelihara dalam terjemahan Yunani. Lagu-lagu itu berasal dari kalangan kaum Parisi dan bermaksud menjelaskan apa sebabnya maka Israel ditimpa bencana sebesar itu. Memang Israel berdosa. Namun demikian di masa depan umat akan dipulihkan. Pemulihan akan diadakan oleh raja masehi. Raja itu adalah keturunan Dawud dan akan memerintahkan segala bangsa, Yahudi dan kafir. Ia akan mendapat kemenangan politik dan rohani.

Mazmur-mazmur ini ada kepentingannya oleh karena memperkenalkan harapan manakah ada di kalangan tertentu di masa Kristus lahir. Namun demikian harapan itu bukan harapan semua orang Yahudi.

[ Sumber ]

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah. Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada. TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka. Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan. Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan. Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. (Mzm 33)

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mzm 100)

BETAPA AGUNG NAMA-MU, YA TUHAN (Mzm 8)
Pergilah! Dan Wartakanlah Injil

Surat Apostolik MOTU PROPRIO DATA

SURAT APOSTOLIK
“MOTU PROPRIO DATA”

PORTA FIDEI
( PINTU KEPADA IMAN )

DARI BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN

1. “Pintu kepada Iman” (Kis. 14:27) senantiasa terbuka bagi kita, memasukkan kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan memberi tawaran untuk masuk ke dalam Gereja-Nya. Melintasi ambang pintu ini dimungkinkan apabila Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rakhmat yang senantiasa mampu mengubah. Memasuki pintu gerbang itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Ia mulai dengan baptisan (bdk. Rom. 6:4), dengan mana kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita, dan perjalanan itu akan berakhir dengan kematian yang memasukkan kita ke kehidupan kekal, buah dari kebangkitan Tuhan Yesus, yang, dengan anugerah Roh Kudus, memang berkehendak menarik semua orang yang percaya kepada-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (bdk. Yoh. 17:22). Beriman kepada Tritunggal –Bapa, Putra dan Roh Kudus– adalah percaya kepada Allah yang mahaesa yang adalah kasih (bdk. 1Yoh. 4:8), yaitu: Bapa, yang dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita, yakni Yesus Kristus, yang melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang membimbing Gereja mengarungi jaman sambil menantikan kedatangan Tuhan yang akan datang kembali dalam kemuliaan.

Baca lebih lanjut

Pesan Bapa Suci, Paus Benediktus XVI untuk Hari Misi Sedunia 2012

“Dipanggil Untuk Memancarkan Sabda Kebenaran”

The renewal of the Church is also achieved through the witness offered by the lives of believers: by their very existence in the world, Christians are called to radiate the word of truth that the Lord Jesus has left us. The Council itself, in the Dogmatic Constitution Lumen Gentium, said this: While “Christ, ‘holy, innocent and undefiled’ (Heb 7:26) knew nothing of sin (cf. 2 Cor 5:21), but came only to expiate the sins of the people (cf. Heb 2:17) … the Church … clasping sinners to its bosom, at once holy and always in need of purification, follows constantly the path of penance and renewal. The Church, ‘like a stranger in a foreign land, presses forward amid the persecutions of the world and the consolations of God’, announcing the cross and death of the Lord until he comes (cf. 1 Cor 11:26). But by the power of the risen Lord it is given strength to overcome, in patience and in love, its sorrow and its difficulties, both those that are from within and those that are from without, so that it may reveal in the world, faithfully, although with shadows, the mystery of its Lord until, in the end, it shall be manifested in full light.” (Porta Fidei #6)

Saudara-saudari yang terkasih,

Tahun ini perayaan Hari Misi Sedunia memiliki arti yang sangat khusus. Peringatan 50 tahun dimulainya Konsili Vatikan II dan pembukaan Tahun Iman serta Sinode para Uskup dengan tema Evangelisasi Baru, membantu menegaskan kembali keinginan Gereja untuk terlibat dengan keberanian dan semangat yang lebih besar dalam missio ad gentes (perutusan kepada bangsa-bangsa) agar Injil dapat mencapai seluruh ujung bumi.

Baca lebih lanjut

Google Earth

 Dapatkan informasi geografis dunia di ujung jari Anda. Lakukan perjalanan virtual ke lokasi mana pun di dunia. Jelajahi bangunan 3D, citra, dan medan. Temukan kota, tempat, dan bisnis lokal. Jelajahi Google Earth dengan 3 cara :

Gratis ! Google Earth untuk Desktop | Lihat citra satelit, peta, medan, bangunan 3D, galaksi jauh di ruang angkasa, dan kedalaman terdalam dari lautan » klik disini.

Plug-in Google Earth, memungkinkan Anda menavigasi dan menjelajahi data geografis pada bola bumi 3D menggunakan browser web. Anda dapat memutar menjungkirbalikkan bola dunia disini » goyang bola dunia dengan ujung jari Anda.

Kunjungi dari perangkat seluler Anda : Google Earth untuk perangkat Android / Google Earth untuk perangkat iOS | Buka » http://m.google.com/earth menggunakan browser ponsel atau tablet Anda, atau pindai kode QR di atas untuk mengunduh Google Earth di perangkat seluler Anda. Lakukan penerbangan di atas citra 3D baru dari seluruh area metropolitan atau biarkan pemandu wisata menunjukkan jalan.

Download Plug-in Google Earth

Evangelisasi Baru

Semangat dari Konsili Vatican II | “Melihat ke belakang untuk maju ke depan,” kalau kita melihat semangat dari Konsili Vatican II, maka kita akan dapat menyimpulkannya dalam dua hal yaitu ressourcement (kembali ke sumber) dan aggiornamento (updating / memperbaharui). Dalam hubungannya dengan evangelisasi, maka Gereja Katolik kembali ke sumber, yaitu Alkitab, Tradisi dan Magisterium Gereja, dan melihat kodrat dari Gereja yang memang harus missioner. Dalam dokumen Lumen Gentium (LG), kita melihat akan hakekat dari Gereja, yang merupakan Tubuh Mistik Kristus, yang kelihatan (means) dan tidak kelihatan (end), yang mengemban tugas mewartakan Kristus kepada segala bangsa. Menyadari bahwa Kristus sendiri yang mengutus para rasul (lih. Yoh 20:21) untuk mengemban amanat agung Kristus ke segala bangsa (lih. Mt 28:19-20; Kis 1:8), maka Gereja dengan penuh ketaatan mengemban misi ini. Inilah sebabnya, secara kodrat, Gereja mempunyai sifat misioner. Dan sifat misioner ini dimungkinkan karena Roh Kudus sendiri yang menjadi Roh dari Gereja. Karena Kristus, sebagai Kepala Gereja menginginkan agar seluruh umat manusia memperoleh keselamatan, maka Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus harus mengemban misi ini berdasarkan inspirasi dan kekuatan dari Roh Kudus.

Pentingnya untuk memberitakan Kristus pada saat ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, melihat kondisi jaman pada saat ini, yang dipenuhi dengan kebohongan materialisme, individualisme, dan sekularisme, relativisme. Bahkan umat beriman yang telah mengenal Kristus banyak yang bertindak dan hidup sebagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus. Inilah sebabnya, melihat tanda-tanda jaman, Paus Yohanes Paulus II menyebut mereka sebagai “practical atheism“. Seperti contoh di atas, kita melihat bagaimana setengah umat Katolik di Amerika memilih seseorang yang mendukung aborsi sebagai presiden mereka. Ini menunjukkan bagaimana mereka tidak menerapkan prinsip-prinsip kekristenan dalam mengambil keputusan penting di dalam hidup mereka.

Dua realitas inilah yang harus dihadapi oleh Gereja. Di satu sisi, Gereja menyadari mempunyai sifat misionaris, namun di satu sisi, kenyataan di dalam kehidupan, terlihat bagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus dan bahkan umat Allah sendiri banyak yang tidak hidup menurut jalan Tuhan. Untuk itulah, Gereja menyerukan evangelisasi baru, untuk kembali merangkul umat Allah dan menyadarkan mereka akan hakekat mereka sebagai umat kesayangan Allah, yang juga harus bertindak menurut hukum Allah. Gereja juga ingin menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus, sehingga mereka juga dapat memperoleh kebenaran penuh dan diselamatkan.

“Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah isi dari Evangelisasi Baru,” tidak ada perintah yang lebih utama daripada mengasihi Allah dan mengasihi sesama. (lih. Mt 22:37-40; Mk 12:30-31) Oleh karena itu, semua hal yang dilakukan oleh Gereja harus mendukung dua perintah pokok ini. Demikian juga dalam aktifitas evangelisasi baru, Gereja dan seluruh elemen Gereja – termasuk masing-masing dari kita – harus mencerminkan kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama yang didasarkan pada kasih kepada Tuhan. Hal ini dilakukan baik dengan sikap hidup yang baik, maupun dengan pemberitaan Injil secara terbuka. “Mengasihi Allah” adalah pondasi dari Evangelisasi Baru.

Baca lebih lanjut

Sekilas Sejarah Bulan Kitab Suci Nasional

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesa sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca KS, pendalaman KS di lingkungan, pameran buku, dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk KS, dan KS ditempatkan di tempat yang istimewa. Sejak kapan tradisi Bulan Kitab Suci Nasional ini berawal ? Untuk apa ?

Baca lebih lanjut

Mendengarkan Tuhan Bercerita | BKSN 2011

“Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”
(Mat 13:35)
“Bagi umat beriman kristiani
jalan menuju Kitab Suci harus dibuka lebar-lebar.”
(Dei Verbum 22)

BAGIAN I : PERUMPAMAAN

Bercerita merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengajar. Dengan memakai cerita atau dongeng, seorang pengajar dapat membawa para pendengarnya masuk ke dunia yang bukan milik mereka. Jika pencerita adalah seorang yang ahli, apa yang diceritakannya dapat sungguh hidup dan seolah-olah nyata hadir di hadapan para pendengarnya. Pada saat itu pendengar dapat mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokohnya, mengambil pelajaran dari isi cerita, membuat perbandingan antara apa yang diceritakan dengan dunianya yang nyata. Mereka terlibat secara emosional, ikut sedih jika ceritanya bernada sedih, ikut gembira jika ceritanya bernada gembira. Dengan adanya keterlibatan aktif pendengar, pencerita dapat memasukkan pesan-pesannya ke dalam cerita dengan lebih mudah. Suatu cerita yang bagus dan diceritakan dengan menarik akan mampu menumbuhkan cara pandang, sikap, pencerahan, opini yang baru bagi pendengarnya. Bahkan pendengar dapat dibantu untuk mengambil keputusan terntentu lewat cerita yang didengarnya.

Ketika mengajar para murid dan orang banyak, Yesus kerapkali menggunakan cerita yang berupa perumpamaan. Sepertiga pengajaran Yesus di dalam Injil disampaikan dalam bentuk perumpamaan. Ada 11 perumpamaan yang terdapat pada ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), 9 perumpamaan terdapat pada Matius dan Lukas, 10 perumpamaan hanya terdapat pada Matius, 15 perumpamaan hanya ada pada Lukas, dan ada 2 perumpamaan hanya terdapat pada Yohanes. Perumpamaan yang dipakai oleh Yesus disertai dengan pesan-pesan tertentu yang menantang para pendengar-Nya untuk aktif berpikir, bertanya, menentukan pilihan, mengubah sikap dan cara pandang. Perumpamaan Yesus juga sering membuat para lawan-Nya tersindir, jengkel, bahkan marah.

Yesus bukanlah orang pertama yang memakai perumpamaan untuk mengajar karena di dalam Perjanjian Lama terdapat sejumlah perumpamaan yang dipakai untuk tujuan pewartaan. Misalnya,kisah tentang orang miskin dan anak dombanya yang disampaikan oleh Natan kepada Daud (II Sam 12:1-10), perempuan Tekoa dengan dua anaknya (II Sam 14:5-20),perumpamaan yang berkaitan dengan hukuman terhadap raja Ahab (I Raj 20:35-40), nyanyian kebun anggur (Yes 5:1-7), rajawali dan pohon anggur (Yeh 17:2-10), singa betina dan anaknya (Yeh 19:2-9), pohon anggur (Yeh 19:10-14), fabel tentang pohon-pohon yang mencari raja (Hak 9:7-15), dan rumput duri dan aras Libanon (II Raj 14:19). Dari semua perumpamaan tersebut hanya perumpamaan yang dikisahkan oleh Natan di hadapan Daud (II Sam 12:1-10) yang mempunyai kemiripan dengan perumpamaan Yesus dari segi bentuk, tujuan, dan teknik pengisahannya. Sebenarnya para rabbi sebelum dan sezaman dengan Yesus juga sering memakai perumpamaan di dalam mengajar. Mereka memakai perumpamaan untuk menjelaskan isi Hukum Taurat. Yesus tidak memakai perumpamaan untuk menjelaskan Taurat, tetapi untuk mewartakan Kerajaan Allah dan berbagai pengajaran lain.

Terminologi

Dalam bahasa Yunani, perumpamaan disebut parabole, gabungan dari kata para dan ballo yang secara harafiah berarti “menempatkan di samping” atau “mensejajarkan” untuk dibandingkan. Perumpamaan adalah gaya berbicara dengan memakai perbandingan. Istilah Yunani parabole mempunyai arti yang luas, karena menerjemahkan kata Ibrani masal (mashal) yang bisa berupa teka teki, pepatah, kiasan, metafora, dan perumpamaan. Masal adalah sebuah ungkapan atau cerita singkat dengan makna terselubung yang dimaksudkan untuk memancing refleksi atau pemikiran dari pendengarnya. Tidak semua gaya bicara perbandingan yang oleh Injil disebut sebagai perumpamaan adalah sebuah perumpamaan dalam arti sebenarnya. banyak di antaranya lebih cocok disebut sebagai :

a. Teka-Teki: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Mrk. 7:15; bdk. ay.17).
b. Pepatah: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKU: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” (Luk.4:23)
c. Metafora: “Kamu adalah garam dunia … Kamu adalah terang dunia …” (Mat 5:14-14).
d. Kiasan: Dan Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal kerajaan sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Mat 13:33)
e. Peribahasa: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11)

Baca lebih lanjut